Saturday, October 15, 2016

Satu Jam Bermain 'Ninja Gaiden 3: Razor’s Edge'

(sumber gambar: giantbomb.com)
Satu jam tidaklah cukup untuk bermain video game. Apalagi video game zaman sekarang memiliki rentang waktu permainan hingga berjam-jam dengan tingkat kesulitan yang memaksa kalian memainkannya berulang-ulang. Tapi satu jam terbilang cukup untuk memberikan kesan kepada gamer mengenai tampilan game tersebut, dari segi visual, audio, dan gameplay. Dan bagi saya, Gamer Jalanan, satu jam sudah cukup untuk mengetahui bagaimana keseluruhan permainan bakal berjalan, dan cukup waktu untuk menentukan melanjutkan permainan atau menghentikannya.

Video game selalu memberikan tantangan berkat tingkat kesulitan yang dihadirkannya. Di antaranya ada yang mudah ditaklukkan, ada yang sedang-sedang saja, ada juga yang sangat sulit untuk dimenangkan. Kali ini saya akan membahas yang terakhir, yaitu salah satu serial game paling sulit yang pernah dibuat: Ninja Gaiden. Saya mengenal Ninja Gaiden pertama kali di era NES 8-bit, lewat trilogi gamenya yang menurut saya merupakan salah satu trilogi video game terbaik. Serial game side-scrolling action platformer ini menantang saya hingga ke level tertinggi, yang sanggup membuat frustrasi.

Selain dikenal berkat tingkat kesulitannya yang sadis, trilogi yang terdiri dari ‘Ninja Gaiden’, ‘Ninja Gaiden Episode II: Dark Sword of Chaos’, dan ‘Ninja Gaiden Episode III: Ancient Ship of Doom’ juga dikenal berkat jalinan ceritanya yang menarik. Memainkan ketiga game buatan Tecmo ini serasa menyaksikan sebuah kisah ala film-film klasik, yang semua itu disajikan baik berkat potongan-potongan cutscene di sela-sela setiap level yang disebut ‘Act’. Jalinan cerita inilah yang membuat saya ngotot memainkan serial game ini terus-menerus sekalipun saya berkali-kali dibuat frustrasi dengan tingkat kesulitannya.

Ilustrasi trilogi Ninja Gaiden original di NES. (sumber gambar: wikimedia)
Di era generasi video game modern tepatnya generasi keenam, serial populer ini kembali dihadirkan oleh Tecmo dalam versi reboot yang hebatnya, mampu melampaui kualitas trilogi aslinya. Dikembangkan oleh developer bernama Team NINJA, Ninja Gaiden versi baru hadir dalam tampilan full tiga dimensi yang keren dengan tidak melupakan apa yang membuat serial ini pernah begitu dikenal: tingkat kesulitan yang tinggi. Saya sering menemukan artikel di internet yang menyebut serangkaian game Ninja Gaiden versi baru sebagai salah satu video game paling sulit yang pernah ada. Ini tentu membuat saya penasaran karena trilogi aslinya saja sudah begitu sulit, lantas bagaimana dengan versi reboot-nya?

Pada akhirnya saya berkesempatan menjajal salah satu game Ninja Gaiden versi baru ini, yaitu seri kronologis ketiganya yang berjudul ‘Ninja Gaiden 3: Razor’s Edge’ di konsol PS3. Saya sempat terkejut mendapati game ini ada di konsol PS3, karena sepengetahuan saya Ninja Gaiden versi baru itu eksklusif untuk Xbox. Kemudian saya baca di wikipedia bahwa Razor’s Edge adalah versi update dari Ninja Gaiden 3 yang pertama kali dirilis untuk platform Wii U tahun 2012, baru kemudian merambah Xbox dan PS3. Dan seperti yang sering saya baca serta lihat di internet, game ini adalah hack-and-slash yang bukan hanya punya tingkat kesulitan tinggi, tapi juga tingkat kekerasan yang begitu sadis.

Tanpa topeng ninja sekalipun, Ryu tetap terlihat misterius.
Ada tiga pilihan tingkat kesulitan di sini, Hero (easy), Normal, dan Hard. Normal menjadi pilihan utama saya untuk melihat tingkat kesulitan asli dari game ini, yang sudah membuat saya penasaran sejak lama. Setelah memilih tingkat kesulitan, muncul cutscene yang membawa saya ke Hayabusa Village, Jepang. Ryu Hayabusa, jagoan dalam game ini, tampak kedatangan dua orang tamu yang memperkenalkan diri mereka sebagai orang kementerian pertahanan, lelaki tua bernama Ishigami dan pilot pesawat tempur Jepang, perempuan muda bernama Mizuki. Mizuki menceritakan bahwa kemarin sekelompok teroris menyerang London dan menguasai area kediaman perdana menteri. Mizuki lantas menunjukkan video teroris yang meminta pemerintah membawa Ryu Hayabusa ke sana.

Setelah sekelabatan judul game ini muncul, cutscene beralih ke London malam hari, ada helikopter terbang di atas sana dan Ryu Hayabusa yang sudah berpakaian ninja berdiri di sebuah menara jam yang ada di sana. Mizuki melalui komunikasi radio menginformasikan bahwa warga telah dievakuasi, mengindikasikan Ryu untuk melakukan serangan. Day 1: London, UK pun dimulai. Dari atas menara, saya, sebagai Ryu, terjun bebas atau istilahnya ‘Falcon Dive’, menyongsong prajurit teroris yang berjaga di bawah sana. Saat sudah dekat dengan prajurit itu, muncul perintah tombol segitiga, yang ketika saya tekan memunculkan aksi pembunuhan sadis pertama yang saya lakukan di game ini.

Sudah berubah menjadi ninja, siap beraksi.
Setelah melumpuhkan prajurit pertama, saya berjalan menyusuri jalanan kota disambut sekelompok prajurit teroris lainnya. Berbekal instruksi tombol yang muncul, saya pun memahami aksi-aksi yang bisa saya lakukan, di antaranya serangan cepat dan serangan kuat, juga menangkis. Bila saya terus-menerus melakukan serangan kuat, saya bisa membantai lawan saya dengan begitu sadis, memotong-motong tubuh mereka yang adegannya ditayangkan dalam gerak lambat penuh darah. Buat orang yang anti kekerasan seperti saya hal ini cukup mengganggu, namun dalam beberapa detik saja saya bisa menerima semburan-semburan warna merah itu bahkan terlarut ke dalam permainannya yang brutal.

Selain menyerang brutal, saya juga bisa bergerak dengan cepat, yang bisa saya gunakan untuk mengejar lawan maupun menghindari serangan mereka, atau untuk meluncur. Pergerakan cepat ini digambarkan dengan animasi yang begitu halus, terkadang menimbulkan bayangan yang menurut saya keren sekali. Bila dikombinasikan dengan tombol-tombol serangan, menghasilkan serangan combo cepat di mana Ryu menyerang satu per satu lawan, berpindah dari satu prajurit ke prajurit lainnya dalam hitungan detik. Pergerakan ini, dengan kilatan-kilatan yang ditimbulkannya, buat saya sangat keren. Mengingatkan saya pada permainan cepat ala ‘Metal Gear Rising: Revengeance’, yang begitu memukau. 

Falcon's Dive, terjun bebas ala ninja. (sumber gambar: onesite.com)
Razor’s Edge menawarkan kustomisasi dalam permainan yang menurut saya keren. Dengan menekan tombol arah atas pada kursor digital, akan muncul berbagai pilihan senjata dan ninpo atau jurus yang bisa saya pilih. Namun senjata-senjata dan jurus-jurus itu harus dibuka terlebih dahulu dengan mengumpulkan sejumlah karma, ibarat mata uang. Kustomisasi ini buat saya adalah hal yang menarik, di mana pada permainan awal ini saya mengganti Dragon Sword dengan sepasang cakar yang keren, Falcon’s Talon. Well, saya merasa menjadi Wolverine dengan senjata ini. Serangan brutal yang bisa dilakukan senjata ini adalah menusuk perut lawan, lantas saat ditarik, memisahkan bagian atas dan bagian bawah tubuhnya. Sadis!

Setelah meluncur di bawah truk kontainer yang menghalangi jalan, dalam sedetik suasana jalanan menjadi lengang, hingga kemudian Mizuki mengingatkan ada sesuatu yang datang. Sebuah mesin perang raksasa menyerupai laba-laba muncul yang langsung menembakkan roket-roketnya membabi buta ke arah Ryu, setelah sebelumnya melemparkan mobil ke arah ninja jagoan saya ini. Beberapa prajurit datang menambah keruh suasana, membuat Mizuki memerintahkan Ryu untuk mencari tempat bersembunyi. Saya lantas berlari masuk ke dalam gang, dengan roket-roket yang masih mengincar Ryu.

Ryu dengan Falcon's Talon di tangannya. (sumber gambar: teamninja-studio.com)
Di sini saya terpojok dan menemui jalan buntu, saat sebuah roket menghancurkan bangunan di depan saya. Dengan menekan tombol R3, saya bisa melihat arah yang mesti saya ambil, membawa Ryu di sela-sela bangunan yang ada di sana. Jalan menjadi sempit dan buntu, namun secara naluri saya bergerak melompat di antara dua dinding yang ada di sana untuk mencapai tempat di atas. Ini bukan pertama kalinya saya memainkan game bertema ninja yang akrab dengan gerakan melompati dua dinding, jadi akan sangat mengecewakan bila Ryu tidak punya kemampuan ini.

Saya tiba di balkon sebuah bangunan, menyusurinya hingga menyadari ada prajurit yang berjaga di ujung balkon. Muncul instruksi berjalan mengendap-endap, yang menjadi elemen stealth pertama yang saya temukan dalam game ini. Elemen ini rupanya diaplikasikan dengan baik dalam Razor’s Edge, di mana Ryu melakukan kamuflase dengan tubuhnya menjadi tidak terlihat. Saat sudah dekat, Ryu segera menghabisi prajurit yang berjaga tersebut dan mengulang aksi pertama, Falcon Dive. Pembantaian penuh darah pun tak terelakkan terjadi di jalanan, di mana Ryu dengan sadisnya memotong-motong, membelah-belah tubuh lawannya dengan begitu brutal.

Inferno, Ninpo pertama yang bisa dikeluarkan Ryu. (sumber gambar: game.co.uk)
Di sini untuk pertama kalinya muncul perintah Ninpo, yang bisa dimunculkan apabila ‘ki meter’ yang ada di bawa ‘health bar’ telah terisi penuh. Saat ini baru Ninpo ‘Inferno’ yang saya miliki, namun itu sudah cukup untuk menghabisi banyak musuh sekaligus. Grafis Ninpo yang merupakan serangan spesial ini sendiri terlihat begitu keren dan cukup memukau, walaupun menurut saya sulit untuk bisa melihat dengan jelas dalam mengarahkan serangan ini ke lawan. Bagusnya adalah, setelah melakukan Ninpo, health bar akan terisi secara signifikan, yang artinya Ninpo bisa digunakan untuk menyembuhkan diri atau menambah health point dalam kondisi yang mengkhawatirkan.

Melawan para prajurit musuh sejatinya tidak semudah yang saya gambarkan di atas. Faktanya, berkali-kali prajurit musuh bisa melayangkan serangan brutal dan telak pada Ryu yang uniknya, juga disajikan dalam format gerak lambat. Di sinilah salah satu elemen kesulitan yang akan selanjutnya membayangi keseluruhan permainan. AI prajurit musuh untuk tingkat kesulitan Normal terasa berat. Mereka terlihat begitu berpengalaman dalam bertarung, membuat melawan mereka secara keroyokan menjadi begitu susah. Apalagi ketika musuh sudah mengunci pergerakan Ryu, akan sangat sulit untuk bisa menangkis dan membalik serangan mereka. Belum lagi mesti menghadapi prajurit musuh yang menggunakan peluncur roket.

Tubuh yang terpotong-potong di depan mata. (sumber gambar: gamersxtreme.org)
Seakan itu belum cukup, tidak adanya fitur fokus target ala ‘The Legend of Zelda: Ocarina of Time’ membuat permainan menjadi semakin sulit. Jujur saja saya kesulitan untuk mengunci serangan saya pada satu musuh yang seringkali membuat serangan saya meleset dan terbuang percuma. Ini kerap kali membuat saya menjadi sasaran empuk lawan-lawan saya dan itu terasa menyebalkan. Kesulitan ini sama seperti yang saya rasakan saat memainkan game ninja lainnya, ‘Tenchu’ di PS1. Saya penasaran saja kenapa fitur seperti ini tidak ada, padahal game hack and slash sejenis seperti ‘Metal Gear Rising: Revengeance’ saja punya fitur ini. Apakah ninja memang tidak bisa fokus dalam menyerang?

Pertarungan melawan para prajurit teroris yang datang mengeroyok benar-benar sangat melelahkan. Berkali-kali mereka sanggup menguras darah Ryu, di mana dalam melakukan hal ini mereka terlihat begitu terorganisir. Saya menyebut terorganisir karena ada prajurit yang seakan bertugas mengeroyok dengan serangan jarak dekat, ada pula yang bertugas menyerang dari jauh dengan senjata api seperti peluncur roket maupun senapan mesin. Meski sudah menggunakan strategi menghabisi begundal dengan peluncur roket terlebih dulu, toh saya masih saja gagal mempertahankan health bar Ryu, membuat permainan berakhir beberapa kali dan saya mesti mengulangnya dari checkpoint terakhir.

Dikeroyok seperti ini memang sangat menyebalkan.
Oke, setelah menghabisi sekumpulan prajurit yang begitu banyak jumlahnya, akhirnya Ryu tiba juga di depan pagar kediaman perdana menteri. Tapi baru saja mau masuk ke dalam, sebuah kendaraan jeep melaju dengan kencangnya ke arah Ryu, membuat saya melakukan aksi evasion dengan cepat, meluncur di bawahnya. Jeep lainnya muncul yang seketika berhenti langsung memunculkan para prajurit yang berlompatan dari dalamnya. Duel kembali terjadi yang saya rasa tidak perlu saya jelaskan lagi. Hmm, mungkin saya perlu menjelaskan tentang combo. Ada kombinasi tombol-tombol yang apabila ditekan terus-menerus secara berurutan bisa memunculkan kombinasi serangan yang mengagumkan, seperti menekan tombol serangan cepat atau quick attack terus-menerus.

Setelah cecenguk-cecenguk itu mati mengenaskan, Ryu mulai masuk ke halaman kediaman perdana menteri dengan dibantu Mizuki yang menyapu bersih musuh dari helikopter. Mizuki bahkan melontarkan granat asap untuk membuat Ryu tidak terdeteksi sensor prajurit musuh yang berjaga di sana. Well, semestinya pertarungan di dalam asap ini menjadi pertarungan yang mudah, tapi karena saya kurang sabar sehingga saya bergerak membabi-buta mencari lokasi musuh. Padahal saya bisa tenang dan mengendap-endap membunuh mereka dalam kegelapan yang menghasilkan ‘Ghost Kill’. Saya kehilangan banyak darah secara signifikan di area ini, namun tidak sampai mengulang.

Laba-laba besi yang membuat frustrasi. (sumber gambar: futurecdn.net)
Mizuki kemudian melaporkan dia membaca ada panas muncul dari dalam asap. Rupanya itu kendaraan laba-laba yang kembali muncul. Mizuki, menyadari Ryu akan sulit menghadapi mesin ini, memintanya untuk kembali. Tapi Ryu menolak dengan mengatakan dia mampu menjatuhkan mesin ini. Kenyataannya adalah saya, sebagai Ryu, tidak bisa menjatuhkan raksasa ini! Well, saya memang berhasil melumpuhkan beberapa kakinya, tapi darah saya keburu habis sebelum benar-benar menjatuhkannya. Mesin ini memiliki serangkaian serangan yang mematikan mulai dari tembakan roket, penyembur api, dan gelombang listrik. Gerakannya yang begitu cepat dan memutar-mutar membuat saya kesulitan untuk menyerang titik vitalnya.

Hasilnya adalah saya berkali-kali gagal menjatuhkan mesin ini yang awalnya saya kira boss pertama dalam game ini. Saya berulang-ulang kali mengulang permainan, hingga muncul layar yang merekomendasikan saya untuk mengganti tingkat kesulitannya menjadi tingkat hero alias easy. Dapat tawaran seperti itu jelas sebuah penghinaan buat saya, Gamer Jalanan. Selama ini saya selalu merasa sanggup menyelesaikan game dalam tingkat normal, jadi jelaslah saya menolak tawaran itu dan tetap memainkan game ini dalam tingkat normal. Walaupun hasilnya tetap sama saja, saya lagi-lagi gagal menjatuhkan mesin laba-laba ini.

Biarpun Ryu bilang seperti ini, faktanya saya mesti ganti ke easy buat bisa menjatuhkannya.
Tapi saya tidak menyerah, saya terus berusaha meskipun selalu gagal. Sempat khawatir kalau waktu satu jam saya akan terbuang sia-sia gara-gara mesin laba-laba ini, namun saya yakin saya bisa menjatuhkannya. Hingga kemudian PS3-nya nge-hang, di mana layar loading tidak juga bergerak ke layar permainan. Mungkin PS3-nya capek kali ya, saya main terus-terusan tapi belum bisa melanjutkan progres. Karena nge-hang, saya terpaksa me-reset ulang PS3 dan memainkan Razor’s Edge dari checkpoint terakhir yang ternyata lumayan jauh, saya mengulang dari luar pagar kediaman perdana menteri. Tapi tidak apa-apa, tidak butuh waktu lama buat saya untuk mencapai lokasi si laba-laba.

Meski begitu masih saja saya gagal menjatuhkannya laba-laba besi itu. Ini membuat saya frustrasi, sehingga ketika muncul pilihan untuk mengganti tingkat kesulitan, kali ini saya menyetujuinya. Yup, dengan berat hati saya bermain di tingkat easy demi menyelesaikan level pertama game ini. Bermain di tingkat easy berbeda jauh dengan tingkat normal. Kali ini saya bisa menjatuhkan mesin laba-laba itu dengan sangat mudah. Kalau tahu seperti ini, mending dari tadi saya menerima tawaran mengganti tingkat kesulitan. Generator mesin itu terbuka yang langsung dihancurkan oleh Ryu, membuat mesin itu meledak, melontarkan ruang kemudinya ke sebuah gang.

Kunai Climb memberikan tambahan variasi kontrol.
Ryu melanjutkan perjalanannya memasuki gang tersebut, mengacuhkan prajurit teroris yang terbakar di ruang kemudi mesin laba-laba, untuk kemudian bertemu lagi dengan gerombolan prajurit teroris. Jumlah mereka sangat banyak, tapi karena jagoannya adalah Ryu Hayabusa, ditambah lagi tingkat kesulitan easy, mereka semua bisa dilumpuhkan segera.  Terlihat seperti jalan buntu di sana, tapi ternyata Ryu bisa berlari di tembok, lantas memanjat tembok dengan menggunakan kunai yang disebut Kunai Climb. Ada variasi kontrol di sini di mana untuk memanjat ke atas mesti menekan tombol L1 dan R1 secara berirama. 

Tiba di atas atas, di sini ada lokasi yang menuju pada skull challenge, tapi saya akan melewatkannya dalam tulisan ini. Pertama karena fitur ini buat saya tidak masuk akal, bagaimana mungkin ketika sedang berada di London, tiba-tiba kembali ke Hayabusa Village dengan waktu berubah menjadi siang? Alasan kedua karena akan membuang-buang waktu saya dalam satu jam permainan ini, di mana yang saya tuju adalah menyelesaikan level pertama game ini dalam waktu satu jam. Jadi saya langsung saja mencari pintu masuk ke dalam gedung, mendobraknya dan masuk ke dalamnya.

Seringkali malah saya yang jadi bulan-bulanan prajurit teroris.
Koridor dalam gedung itu cukup panjang, menuruninya cukup melelahkan. Ryu kemudian melihat cipratan darah yang banyak, membuat cemas apakah para sandera telah dibunuh. Memasuki sebuah ruangan yang cukup luas, mendadak muncul banyak prajurit teroris di sana yang langsung mengepung Ryu. Puas membantai mereka, Ryu mendobrak pintu besar di sana, dikejutkan seorang prajurit di sana yang langsung menyerangnya. Di sini Ryu melakukan jurus ‘Steel on Bone’, saya kurang tahu jelas mengenai serangan ini, tapi membunuh lawan dengan jurus ini bisa menambah health.

Ryu kini berada di luar, lagi-lagi dikepung teroris. Oh ayolah, apakah kalian tidak bisa berhenti muncul selama beberapa detik saja? Setelah membunuh prajurit di depan pintu besar ini, seekor elang yang merupakan kepunyaan Ryu muncul. Elang ini akan muncul di beberapa titik, di mana saya bisa menyimpang progres permainan alias save point. Setelah menyimpan, Ryu mendobrak pintu ganda besar lain di sana, masuk ke dalam bangunan lainnya dan berlari menyusuri koridor yang penuh dengan darah. Koridor itu berujung pada pintu ganda lainnya, yang ketika didobrak, memonculkan pemandangan yang mengerikan.

Sosok bertopeng berjubah merah.
Sesosok berjubah merah di sana mengangkat seorang pria berjas yang saya duga adalah perdana menteri. Tanpa berkata apa-apa, tanpa mengindahkan ucapan pria berjas yang meminta tolong, sosok itu langsung menusukkan pedangnya ke perut pria berjas. Setelah membunuhnya, sosok berjubah membuang mayatnya begitu saja, sembari menyambut kedatangan Hayabusa. “I’ve been waiting for you, hero,” katanya membelakangi Ryu. Saat Ryu bertanya siapa dia, sosok itu berbalik, menampakkan wajahnya yang ternyata memakai topeng putih. Bukannya menjawab, sosok itu justru menantang Ryu untuk bertarung melawannya. Inilah boss battle sebenarnya dari level pertama game ini.

Tanpa ba-bi-bu, pertarungan Ryu melawan si topeng ini tak terelakkan terjadi. Si topeng ini rupanya kuat, dia memiliki jurus kecepatan seperti Ryu. Serangannya juga terbilang mematikan. Tapi paling tidak duel ini adalah duel yang fair pedang melawan pedang, ketimbang duel sebelumnya melawan kendaraan raksasa yang sangat menguras darah. Dan lagi, sekarang tingkat kesulitannya telah berganti menjadi easy, yang artinya melawan sosok bertopeng ini tidak lagi sesulit yang semestinya. Ketika darah sosok bertopeng ini berkurang seperempat lebih, terjadi duel pedang ala Samurai Shodown, di mana saya mesti menekan tombol kotak terus-menerus untuk mempertahankan pedang. 

Duel pedang Ryu melawan sosok bertopeng. (sumber gambar: 7-themes.com)
Ryu sukses mempertahankan pedangnya, membuat sosok bertopeng terlempar keluar menghantam jendela. Pertarungan kini berpindah ke luar bangunan, dengan kondisi cuaca yang kini berubah hujan. Pertarungan di luar ini tak ubahnya pertarungan di dalam ruangan. Adu pedang terus-menerus terjadi dan ketika darah sosok bertopeng mendekati batasnya, Ryu berhasil menusuknya telak. Kembali muncul perintah tombol kotak yang ketika berhasil saya ekseskusi dengan baik, membuat Ryu menendang sosok bertopeng jatuh, mencabut pedang naganya. Sesuatu yang tak terduga kemudian terjadi, saat pedang Dragon Sword berubah merah dan lenyap perlahan, menimbulkan pusaran merah yang merasuk ke tangan kanan Ryu yang memegang pedang.

Pusaran itu menghancurkan pelindung tangan Ryu, membuat tangannya berdarah-darah sekaligus membuat Ryu bertanya-tanya. Soso bertopeng rupanya belum mati, malah dengan mudahnya dia berdiri seraya mempertanyakan orang-orang yang telah dibunuh Ryu. Sang Ninja Dragon yang merasa terdesak lantas mengambil pedang milik sosok bertopeng dan menyerangnya. Tapi sosok bertopeng dengan mudah menghindari serangan itu malahan dia bisa menahan pedang itu hanya dengan menginjaknya. Dia kemudian mengucapkan perpisahan pada Ryu, lantas menghilang begitu saja.

Mizuki, pilot jet tempur Jepang yang cantik.
Mizuki melalui komunikasi radionya menginformasikan adanya pergerakan rudal ke lokasi Ryu dan memintanya segera pergi dari sana. Ryu yang terluka parah lantas berjalan perlahan meninggalkan tempat tersebut. Tapi sepertinya dia terlambat di mana rudal dijatuhkan sebelum dia sempat meninggalkan tempat itu, membuat Mizuki terkejut mendapati kediaman perdana menteri telah luluh lantak. Di tempat lain, tampak seseorang tengah menyaksikan rekaman pemboman tersebut seraya menunjukkan kekecewaannya karena Ryu tidak bisa melarikan diri dari serangan tersebut. Tapi bukan masalah, katanya, dan pria misterius yang duduk di sebuah kursi di depan monitor besar itu lantas memerintahkan untuk memulai fase berikutnya.

Mizuki terus mencoba menghubungi Ryu, seakan tidak percaya kematian ninja tersebut. Dari reruntuhan, Ryu muncul dan bangkit, rupanya sang jagoan dapat selamat dari serangan tersebut. Mizuki lantas menginformasikan kalau pihaknya akan menjemput Ryu, yang perlahan berjalan meninggalkan puing-puing bangunan. Setelah itu muncul cutscene yang memperlihatkan Ryu telah terselamatkan, dan kini berada di kapal Destroyer Unagi di laut utara. Dia berterima kasih pada Mizuki yang menginformasikan kepergian para teroris setelah serangan rudal yang hampir membunuh Ryu. Mizuki menyimpulkan bahwa Ryu adalah target utama teroris dalam serangan di London.

Ancaman lelaki bertopeng yang menurut saya belagu banget.
Kemudian muncul perintah untuk menyalakan televisi, yang menayangkan video ancaman sosok bertopeng kepada dunia. Dalam tayangan tersebut, sosok bertopeng meminta negara-negara di dunia menyerah pada mereka. Dalam waktu tujuh hari, mereka akan melakukan serangan sebagaimana yang mereka lakukan di London apabila dunia menolak menyerah. Menyaksikan video itu membuat Mizuki menyimpulkan apa tujuan kelompok teroris. Dan, permainan level pertama atau hari pertama dalam Razor’s Edge pun selesai, bersamaan dengan berakhirnya waktu satu jam permainan saya dalam game ini. Benar-benar tepat waktu.

Seperti biasanya, sekarang saatnya saya untuk mengulas game ini dari berbagai segi untuk kemudian membuat kesimpulan apakah game ini layak dimainkan ulang atau tidak. Saya akan mulai dari segi grafis, yang menurut saya begitu impresif. Untuk detail gambar latar dan animasinya tidak ada yang istimewa, terlihat bagus dalam kualitas PS3 sebagaimana game-game sejenis. Yang saya garis bawahi adalah efek pertarungan dalam game ini yang begitu menawan, meliputi pergerakan cepat saat menyerang, tubuh-tubuh yang terpotong berikut banjir darah yang menyertainya. Impresif, sangat memukau sekaligus membuat bergidik.

Grafisnya bikin ngilu. (sumber gambar: ign.com)
Setiap efek grafis itu mampu menimbulkan kesan brutal yang begitu sadis dan mengerikan. Tak heran bila serial Ninja Gaiden versi baru sering disebut sebagai salah satu game penuh darah yang pernah ada. Efeknya bahkan melampaui apa yang ditampilkan ‘Metal Gear Rising: Revengeance’. Ya saya memang membandingkan game ini dengan Razor’s Edge karena keduanya memiliki banyak kesamaan dalam hal elemen hack-and-slash, stealth, serta adegan penuh darah. Pun, keduanya sama-sama menghadirkan pertarungan terbuka di jalanan kota yang berlangsung cepat dan futuristik, sama-sama menyajikan serangan teroris sebagai menu pembukanya, juga pembunuhan pemimpin negara di akhir level pertamanya.

Efek memukau juga terlihat dalam mengeluarkan serangan spesial ninpo. Efeknya menurut saya mampu memberikan kesan kekuatan luar biasa yang memiliki daya rusak tinggi. Setiap adegan dalam game ini dibuat dengan grafis yang detail, mulai dari efek-efek ledakan, suasana malam, turunnya hujan, hingga saat pusaran merah melukai tangan Ryu. Efek gerak lambat yang menunjukkan detail serangan yang terjadi pun terlihat begitu natural, sama dengan keluarnya dari tubuh lawan yang terpotong-potong. Tidak jarang semburan darah terasa keluar dari layar televisi saking intensnya. Sehingga sangat jelas kalau Razor’s Edge bukanlah untuk dikonsumsi gamer di bawah umur. Saya saja yang sudah hampir kepala tiga ini masih bisa dibuat mual karenanya.
Hack-and-slash yang begitu maksimal. (sumber gambar: nintendoworldreport.com)
Sebagai sebuah hack-and-slash, gameplay dalam Razor’s Edge tidak perlu diperkenalkan lagi. Yang perlu saya lakukan hanya menerjang lawan dan menyayatnya satu per satu. Sederhana,sehingga tidak dibutuhkan tutorial serius dalam memainkan game ini. Elemen-elemen dan ciri khas ninja pun begitu banyak mendominasi permainan, mulai dari senjata-senjata yang bisa digunakan dan jurus-jurus maut yang bisa dilakukan. Pergerakan Ryu dalam menghabisi setiap lawannya pun bisa dipercaya sebagai sebuah bela diri ninja, mulai dari Falcon Dive, Kunai Climb, hingga Ghost Kill. Jadi bisa disimpulkan kalau game ini adalah game yang terasa ninja banget, benar-benar memaksimalkan penggunaan judulnya, Ninja Gaiden.

Pergerakan kamera dalam Razor’s Edge sebenarnya tidak terlalu memusingkan, di mana karena bergerak dinamis dengan fokus yang menyesuaikan aksi yang dilakukan. Akan tetapi, banyaknya musuh yang muncul seringkali membuat saya bingung dalam melakukan serangan maupun menempatkan diri. Apalagi dengan tidak adanya fokus target, membuat serangan seringkali menjadi mubazir. Beruntung ada combo serangan cepat yang cukup membantu dalam menjatuhkan beberapa lawan sekaligus. Yang perlu saya kritil mungkin opsi mengganti sudut pandang kamera saat boss battle yang menurut saya sangat useless, karena bukannya membantu tapi malah membuat susah.

Voice acting yang bagus menghidupkan karakter Ryu.
Dari departemen suara, tidak banyak yang bisa saya komentari karena semuanya terdengar standar dan tepat. Tidak ada yang memorable, suara pedang, teriakan, ledakan, semuanya terdengar seperti semestinya. Kalau boleh memberi pujian, mungkin bisa saya alamatkan pada segi voice acting atau sulih suara karakter-karakternya. Tidak benar-benar impresif sebenarnya, standar, namun saya bisa merasakan emosi dan penghayatan karakter dalam setiap percakapan yang ada. Dari mendengar suara Ryu, saya bisa melihat bagaimana sifat karakter ini. Meski begitu, menurut saya ada voice acting yang tidak tepat yaitu pada karakter sosok bertopeng.

Untuk kontrolnya, buat saya tidak ada masalah. Respon serangan begitu baik, begitu cepat, sangat pas dengan tempo game ini yang memang sangat cepat. Satu-satunya yang saya keluhkan adalah sekali lagi, tidak adanya fitur fokus target. Ini membuat serangan saya seringkali terbuang sia-sia, namun tidak terlalu menganggu kenikmatan permainan saya berkat combo serangan cepat yang bisa dihasilkan. Di luar itu ada cukup kontrol yang membuat permainan terasa begitu tepat, seperti misalnya tombol R3 yang sangat membantu menemukan lokasi yang mesti dituju saat saya merasa menemukan jalan buntu.

Skull Challenge yang menurut saya tidak masuk akal.
Dari segi narasi, Razor’s Edge memiliki apa yang membuat serial ini begitu dikenal. Cerita dalam game ini sebenarnya begitu klise, ada serangan teroris dan sosok bertopeng. Namun ada elemen konflik dan misteri yang menjadikan kisah dalam Razor’s Edge menarik untuk diikuti. Memainkan Day 1 saja sudah cukup buat saya jadi penasaran bakal berakhir seperti apa kisah dalam game ini.  Setiap cutscene CGI yang ada juga digambarkan sangat baik, bersama dengan voice acting turut menghidupkan setiap karakter yang terlibat dalam pembentukan ceritanya. Yang saya suka dari game ini adalah bagaimana sosok Ryu ditampilkan, di mana di satu sisi dia terlihat begitu ramah, namun di sisi lain dia bisa begitu brutal.

Bicara tentang tingkat kesulitan dalam game ini, well, saya sudah membahasnya di awal-awal tulisan saya ini jadi saya hanya akan memberikan kesimpulan singkat. Razor’s Edge mempertahankan kerasnya permainan yang membuat serial ini begitu dikenal. Yeah, sangat sulit, bahkan saya dibuat kewalahan hanya menghadapi para prajurit musuh. Untuk bisa melanjutkan permainan dan bertemu bos di level pertama saja saya mesti mengganti tingkat kesulitannya menjadi easy. Sumpah, ini salah satu game yang membuat saya begitu frustrasi memainkannya, apalagi dalam rentang waktu satu jam permainan.

Tingkat kesulitannya sebanding dengan tingkat kekerasannya. (sumber gambar: plusxp.com)
Tapi ini lebih baik sih ketimbang trilogi asli serial ini, karena dalam game ini ada tingkat kesulitan hero alias easy buat mereka yang putus asa dengan tingkat kesulitan normalnya. Baru normal saja sudah begitu sulit, bagaimana dengan HARD? Tingkat kesulitan game ini buat saya merupakan sebuah tantangan yang sangat menarik, yang berdampak pada besarnya replay value yang dimilikinya. Penggemar genre hack-and-slash maupun penggemar serial ini pasti akan memainkan game ini terus-menerus sampai tamat, tak peduli seberapa sulit tantangan yang dihadapinya. Lagipula, sebagaimana game-game sejenis, ada pola yang perlu diketahui untuk bisa menyelesaikan permainan, yang semua itu bisa didapatkan melalui trial-and-error.

Kesimpulannya, Ninja Gaiden 3: Razor’s Edge adalah sebuah pengalaman menjadi ninja yang begitu mengasyikkan, terlepas dari tingkat kesulitan yang dimilikinya. Game ini memiliki nuansa ninja yang begitu kental, dengan kemasan aksi yang terisi sangat padat. Dengan semua elemen permainan yang dimilikinya, Razor’s Edge adalah sebuah game sempura untuk penggemar ninja dan hack-and-slash, serta para gamer garis keras yang mencari tantangan paling berat dalam video game. Dengan grafis dan tingkat kesulitan yang brutal, saya rasa game ini lebih tepat dimainkan para gamer dewasa dan perlu dijauhi anak-anak.

Ryu saja pantang menyerah, kenapa saya tidak? (sumber gambar: wallpaperfolder.com)
Akhirnya, setelah satu jam bermain, saya pikir saya perlu kembali memainkan game ini bila kondisinya memungkinkan. Saya begitu terkesima dengan kecepatan dan kebrutalan yang ada dalam game ini. Tentu termasuk juga cerita yang misterius, yang membuat saya penasaran bagaimana ujungnya. Jadi meskipun game ini memiliki tingkat kesulitan yang begitu membuat frustrasi, itu tidak akan menghentikan saya untuk memainkannya. Ya kalau dalam tingkat normal saya kewalahan, kan masih ada tingkat hero. Hehehe. 

Yang pasti, jangan ngaku gamer sejati kalau kalian belum bisa menamatkan Ninja Gaiden 3: Razor’s Edge dalam tingkat normal. Game ini punya segala sesuatu yang membuat penggemar game action terhibur, aksi, kekerasan, ninja yang keren, dan tantangan yang begitu tinggi. Dan sebagaimana game hack-and-slash yang pernah saya bahas di blog ini, di satu sisi game ini mungkin tidak tepat untuk beberapa gamer karena tingkat kekerasannya yang begitu sadis. Dari skala 1 sampai 10, saya beri game ini nilai impresi 7 yang artinya cukup layak untuk dimainkan kembali. Bagaimana dengan sahabat gamer? Apa kalian sudah pernah memainkan game ini? Saya Gamer Jalanan, terima kasih sudah membaca pengalaman saya ini dan... Salam Gamer! (gj)

*NB: Gambar-gambar screenshot tanpa kredit diambil dari YouTube.

No comments:

Post a Comment