Monday, August 15, 2016

Satu Jam Bermain 'Dragon Ball Z: Battle of Z'

(sumber gambar: flutterbutter.wikia.com)
Satu jam tidaklah cukup untuk bermain video game. Apalagi video game zaman sekarang memiliki rentang waktu permainan hingga berjam-jam dengan tingkat kesulitan yang memaksa kalian memainkannya berulang-ulang. Tapi satu jam terbilang cukup untuk memberikan kesan kepada gamer mengenai tampilan game tersebut, dari segi visual, audio, dan gameplay. Dan bagi saya, Gamer Jalanan, satu jam sudah cukup untuk mengetahui bagaimana keseluruhan permainan bakal berjalan, dan cukup waktu untuk menentukan melanjutkan permainan atau menghentikannya.

Setelah sebelumnya mengulas game 'Dragon Ball: Advanced Adventure', kali ini saya kembali mengajak sahabat gamer memainkan game Dragon Ball. Bedanya game kali ini dirilis di konsol generasi terkini PlayStation 3 (PS3), dengan judul gamenya yaitu ‘Dragon Ball Z: Battle of Z’ yang diriis tahun 2014 oleh Bandai Namco Games. Seperti yang sudah banyak diketahui, game-game Dragon Ball mayoritas bergenre fighting, dan Battle of Z termasuk di antaranya. Bedanya Battle of Z memiliki elemen beat’em ups dalam mode single-player. Mode inilah yang saya bahas dalam momen satu jam bermain kali ini.

Terbiasa memainkan game-game Dragon Ball di konsol klasik membuat saya penasaran bakal seperti apa game Dragon Ball di konsol game terkini. Saya cukup bingung memilih antara Battle of Z atau Xenoverse, tapi pada akhirnya saya memilih Battle of Z karena grafisnya menampakkan Beerus (di Amerika disebut Bills), karakter dewa petarung dalam film 'Dragon Ball Z: Battle of Gods'. Jadi saya berasumsi kalau game ini bakal menghadirkan karakter Beerus bahkan juga karakter Goku dalam mode Super Saiyan God. Buat saya Battle of Gods adalah movie Dragon Ball Z yang menarik karena merupakan kelanjutan resmi/canon dari serial Dragon Ball Z buatan Akira Toriyama, setelah event pertarungan melawan Buu.

Layar judul yang keren.

Battle of Z dibuka dengan sebuah opening yang cukup indah dalam kemasan animasi Dragon Ball Z yang saya tidak ingat pernah menyaksikannya di televisi. Saya tidak tahu, tapi mungkin animasi ini dibuat khusus untuk gamenya, persamaannya adalah lagu 'Chala Head Chala' yang mengalun di sana. Layar judul tampak keren di mana karakter Goku dan Z digambarkan paling besar di antara para Z-Fighter lainnya, dan keduanya saling berhadapan. Layar judul ini seakan mengindikasikan kalau game ini adalah adaptasi video game dari movie Dragon Ball Battle of Gods yang pernah saya tonton dulu. Dengan layar judul yang sesangar ini, saya pikir saya akan mendapatkan pengalaman Dragon Ball Z terbaru yang keren.

Segera setelah saya menekan tombol START, di layar muncul gambar bola energi yang melayang mengitari bumi yang kemudian digantikan tiga kotak pilihan mode dalam game ini dan kotak option. Ada tiga mode permainan dalam game ini yaitu Single-Player, Co-op Mode, dan Battle Mode. Karena saya mainnya seorang diri maka jelas Single-Player menjadi mode yang saya pilih di sini. Co-op Mode kemungkinan adalah mode multiplayer cooperative sementara Battle Moe saya duga merupakan mode multiplayer kompetitif atau versus. Kedua mode rupanya masih terkunci, membuat Single-Player menjadi satu-satunya mode yang bisa saya mainkan.

Master Roshi menyambut di layar loading.
Saat memilih Single-Player saya dihadapkan pada kotak besar dengan Master Roshi di sana dan tulisan besar ‘Welcome to Single Player!’. Kotak itu bertuliskan instruksi singkat bagaimana memainkan mode single-player, di mana saya mesti memilih misi dalam bulatan-bulatan yang melingkar di sana, setelah itu baru menakan START. Baiklah, langsung saya pilih mission 1 yang merupakan satu-satunya misi tersedia saat ini di antara lima lingkarang misi lainnya yang masih kosong. Karakter yang saya gunakan adalah karakter Goku dan setelah menekan START, muncul layar loading yang lagi-lagi bergambar Master Roshi. ‘I will be rooting for you!’, katanya.

Misi pertama berjudul ‘Beginning of Battle!’, di mana saya dibawa ke wilayah perbukitan tandus sebagaimana yang sering menjadi arena pertarungan dalam serial animasi Dragon Ball Z. Goku tiba-tiba meluncur dari atas, menjejak tanah dengan kerasnya sehingga memunculkan debu. Setelah sedikit pose bergaya, muncul tulisan BATTLE START di mana kendali Goku kini berada di tangan saya. Dengan sudut pandang orang ketiga sebagaimana game-game 3D action kebanyakan, saya bisa menggerakkan karakter Goku dengan lincahnya ke berbagai arah yang ada.

Tampilan interface awal mode single-player.
Beberapa instruksi tombol untuk bergerak muncul dan tidak butuh waktu lama bagi saya untuk segera terbiasa dengannya. Di antaranya tombol-tombol untuk berlari cepat, melayang, terbang dan melakukan serangan. Saya yang merasa senang bisa memainkan game Dragon Ball Z kembali pun begitu antusias menjelajah lingkungan sekitar dengan berbagai bentuk gerakan yang bisa dilakukan Goku. Sesekali Goku mengatakan kalimat-kalimat yang cukup menarik untuk dibaca, yang menurut saya memberikan kesan ada sebuah petualangan dalam permainan ini. Dari kalimat-kalimat itu saya pun mengerti bahwa Goku merasakan kekuatan jahat dan akhirnya dia menemukan sumbernya.

Berikutnya saya bergerak ke arah musuh sesuai arah yang diberikan radar yang ada di pojok kanan bawah layar permainan. Di radar, lokasi musuh ditandai dengan segitiga merah sementara lokasi saya ditandai dengan segitiga biru. Ketika tiba di lokasi musuh, tiba-tiba muncul dua Saibamen berwarna biru dari dalam tanah. Rupanya kekuatan jahat itu berasal dari dua Saibamen tersebut. Ini adalah kali kedua saya berkonfrontasi dengan Saibamen, makhluk asing pendek yang lebih jelek dari Piccolo yang berperan sebagai grunt atau pasukan musuh. Pertama kalinya saya melawan mereka di game RPG Dragon Ball Z yang rilis di konsol Super Famicom, The Legend of Super Saiyan.

Goku merasakan aura jahat.
Saya pun memulai pertarungan pertama dalam game ini di mana saya berlari mengejar kedua Saibamen ini. Di sepanjang jalan, muncul instruksi tombol lainnya yang menginformasikan tombol-tombol aksi yang perlu ditekan untuk menghadapi lawan, yaitu tombol Lock-On untuk mengunci lawan. Lock-On yang dilakukan dengan menekan tombol R1 adalah fitur untuk berfokus pada satu lawan sehingga saya bisa menyerangnya dengan lebih terarah. Fitur ini pertama kali diperkenalkan game ‘The Legend of Zelda: Ocarina of Time’ yang dikenal dengan nama ‘Z-Target’, yang kemudian banyak digunakan oleh game-game action-adventure di masa kini termasuk oleh Battle of Z.

Untuk serangan standarnya yaitu ‘melee attack’ dan ‘ki blast attack’, di mana saya juga bisa menangkis serangan lawan dengan ‘guard’. Segera saja saya menghajar dua cecenguk ini dalam pertarungan yang terasa menyenangkan untuk dimainkan. Secara otomatis karakter saya yaitu Goku akan melayang, terbang, dan mengejar lawan dengan begitu cepat saat saya menekan tombol ‘melee attack’ ketika sudah berada di dekat lawan. Bentuk ‘melee atack’ ini bervariasi, mulai dari pukulan, tendangan, hingga hantaman ke tanah. Melakukan serangan-serangan jarak dekat ini berkali-kali terasa begitu menyenangkan, memunculkan tensi duel Dragon Ball Z yang sebenarnya.

Fitur Lock-On yang sangat membantu.
Sedangkan saat menekan tombol ‘ki blast attack’, Goku akan menembakkan sinar penghancur kecil-kecilan ke arah lawan. Tidak sekuat kamehameha, jurus khas dalam serial ini, tapi cukup efektif untuk melumpuhkan lawan sebelum saya hajar habis-habisan. Bila ‘melee attack’ adalah serangan jarak dekat, maka ‘ki blast attack’ adalah serangan jarak jauh. Bedanya serangan ini menguras energi dan tidak akan bisa digunakan saat energinya habis.

Menurut saya kedua tipe serangan ini baik ‘melee attack’ dan ‘ki blast attack’ dihadirkan secara alami, responsif, dan mudah dilakukan yang buat saya sudah cukup dalam menghadirkan sensasi duel sengit sebagaimana yang sering saya saksikan di televisi. Begitu cepat dan begitu intens. Apalagi pergerakan kameranya begitu responsif, dengan efek-efek serangan yang keren pada beberapa titik. Dalam hal ini, gambar di layar akan berubah menjadi slow motion dengan tampilan jarak dekat dan juga efek serangan keren yang dihasilkannya. Ya kira-kira seperti slow-motion dalam game ‘Batman: Arkham Asylum’ yang pernah saya mainkan sebelumnya.

Blast Spark alias Kamehameha.
Sukses menjatuhkan dua lawan pertama memunculkan lawan-lawan berikutnya, masih para Saibamen. Berbarengan dengan pertarungan melawan bala bantuan musuh tersebut, kembali muncul instruksi kombinasi tombol yang mesti untuk memunculkan serangkaian serangan yang lebih kuat yaitu ‘strike impact’ dan ‘blast spark’. Serangan ‘strike impact’ adalah serangan fisik yang lebih kuat dari ‘melee attack’ sementara ‘blast spark’ adalah serangan jarak jauh yang lebih kuat dari ‘ki blast’, dalam hal ini saya akrab menyebutnya dengan istilah kamehameha. Ada juga kombinasi tombol untuk memunculkan ‘unique move’ yang sepertinya berbeda untuk masing-masing karakter.

Setelah dua kali ‘enemy reinforcement’, pertarungan pertama ini pun selesai juga. Akhirnya Goku bisa pulang ke rumah untuk menyantap masakan Chi-Chi, istrinya. Mission Complete. Papan skor permainan pun muncul berikut rank yang dihasilkan dari permainan saya. Di sini ada sedikit elemen RPG di mana terjadi penambahan experience (EXP) yang membuat saya naik peringkat atau rank. Saya juga dapat hadiah koleksi kartu yang tidak saya pedulikan, yang kemudian saya ketahui bisa berperan dalam meningkatkan statistik karakter saya. Card Collection pun terbuka dan di layar loading (dengan Master Roshi di sana) terdapat beberapa instruksi bagaimana cara menggunakan kartu-kartu tersebut.

Kustomisasi karakter menggunakan card collection.
Mengacuhkan koleksi kartu tersebut, saya kembali melanjutkan misi dalam permainan ini, mission 2 dengan judul ‘A Mysterious Enemy’. Beralih ke wilayah lembah, dengan bangunan peternakan di sana, Krillin tiba-tiba muncul dari atas dan menjejak ke tanah diikuti jagoan saya si Goku. Rupa-rupanya kali ini saya mesti bekerja sama dengan Krillin untuk mengalahkan musuh, di mana karakter Krillin ini dikendalikan oleh komputer. Tiga Saibamen muncul dari dalam tanah dan pertarungan pun dimulai. Berbeda dari misi pertama, kali ini saya bertarung secara kooperatif bersama Krillin untuk mengalahkan para Saibamen ini. Bedanya lagi,  kini Goku tidak lagi berbicara sendiri karena ada Krillin yang menjadi temannya mengobrol di sepanjang pertarungan.

‘Enemy Reinforcement’ beberapa kali terjadi, kali ini mendatangkan Saibamen berwarna hijau. Setelah menaklukkan beberapa bala bantuan Saibamen, tiba-tiba muncul tulisan WARNING di layar permainan. Cutscene bergulir di mana sesuatu benda yang berat meluncur jatuh ke tanah, memunculkan ledakan yang cukup besar untuk bisa menghempaskan Krillin. Dari dalam  benda itu muncul Raditz, yang begitu muncul langsung mengolok-olok Goku yang dipanggilnya dengan sebutan Kakarot. Kendali permainan dengan cepat kembali pada saya yang mesti mengalahkan Raditz yang jauh lebih kuat dari Saibamen.

Raditz menantang Goku.
Di sepanjang duel ini terjadi percakapan antara Goku dengan Raditz, yang mengungkap jati diri Goku sebagai bangsa Saiya. Sayangnya saya rasa percakapan yang juga mengungkap Raditz sebagai kakak Goku ini terlalu dipaksakan ada di dalam pertarungan. Sehingga sama sekali tidak terasa efek dramatis dan pengungkapan jati diri itu hanya berlalu begitu saja secara seketika. Semestinya ada lebih banyak cutscene yang setidaknya memberikan detail yang lebih jelas tentang cerita yang hendak diangkat. Ya walaupun tanpa diceritakan kembali pun semua penggemar Dragon Ball Z sudah mengerti apa yang sedang terjadi, tapi potongan cerita yang nanggung membuat penggunaan percakapan sebagai sarana narasi menjadi sia-sia.

Kembali ke pertarungan melawan Raditz, tidak banyak yang bisa saya ceritakan di sini selain pertarungan ini terasa jauh lebih ketat walaupun saya tidak terlalu sulit untuk mengalahkannya. Saya sebelumnya menduga dalam pertarungan ini Goku akan dibuat mati sebagaimana dalam serial animasinya, namun ternyata Goku berhasil dengan sukses mengalahkan Raditz. Dalam pertarungan ini pun saya untuk pertama kalinya menggunakan ‘kamehamema slam’ yang powerful, dengan menekan kombinasi tombol yang ada. Menurut saya serangan keren seperti ini memang cocoknya untuk lawan-lawan keren seperti Raditz, dan saya yakin masih banyak lawan keren lainnya yang bakal menyusul.

Bala bantuan Saibamen.
Mission complete, namun sebelum saya berlanjut ke misi berikutnya, saya ingin sedikit membahas percakapan antara Krillin dan Goku yang menurut saya menarik. Dalam keputusasaannya, Krillin berharap setidaknya pernah merasakan menikah. Ucapannya itu dijawab oleh Goku bahwa menikah memang bagus, tapi tidak semudah kelihatannya. Dan memang benar, menikah itu tidak mudah lho! Hahaha, jadi curhat pengalaman pribadi nih. Lalu si Krillin menjawab kalau setidaknya Goku punya istri seimut Chi-Chi. Hey Krillin, kamu juga nantinya akan menikah dan istrimu nanti si android no. 18! Kamu menikah dengan manusia setengah robot yang imut banget!

Oke, lupakan soal curhat colongan ini, kembali ke permainan. Setelah menyelesaikan mission 2, dua karakter baru kini bisa diakses atau ‘unlocked’ yaitu Gohan kecil dan Raditz. Selain itu item collection juga terbuka, dengan layar loading menginstruksikan bagaimana caranya menggunakan item-item tersebut. Kini lanjut ke misi ketiga yaitu ‘Hellish Training’, di mana karakter yang saya gunakan kini bukanlah Goku melainkan putranya, Kid Gohan atau Gohan kecil. Pada misi kedua ini selain bekerja sama dengan Krillin saya juga bekerja sama dengan dua Z-Fighter lainnya, Yamcha dan Tien.

Kid Gohan dihajar tiga Piccolo sekaligus.
Di misi ketiga ini ceritanya Gohan sedang dilatih oleh Piccolo, mungkin untuk mempersiapkan kedatangan bangsa Saiya. Cukup mengecewakan sih sebenarnya mengingat alur ceritanya dari misi kedua terentang jauh dan terkesan dilewati begitu saja. Tapi mengingat ini adalah game Dragon Ball Z di mana seperti kebanyakan game sebelumnya lebih berfokus pada gameplay fighting, jadi buat saya masih bisa dimaafkan. Di misi ini Piccolo mengasumsikan bakal ada lebih dari satu musuh, karenanya dia pun menggandakan diri menjadi tiga dan Gohan harus mengalahkan ketiganya sekaligus.

Dan bisa ditebak yang terjadi berikutnya adalah Gohan jadi bulan-bulanan Piccolo dan saya tidak tahu harus berbuat apa. Satu orang Piccolo saja sudah terlalu kuat untuk dikalahkan, apalagi sampai tiga Piccolo. Beruntung kemudian di saat Gohan terhempas dan kehilangan harapan, muncul Krillin bersama Yamcha dan Tien, menawarkan diri membantu Gohan untuk mengalahkan ketiga Piccolo. Karena Piccolo setuju, maka pertarungan selanjutnya pun menjadi lebih mudah, yaitu petarungan Gohan, Krillin, Yamcha, dan Tien melawan tiga Piccolo. Dalam hal ini saya sebagai Gohan kecil bisa berfokus pada satu Piccolo sebelum menjatuhkan Piccolo yang lain.

Kid Gohan melakukan Energy Share.
Karena Krillin kurang fokus gara-gara semalaman nonton video senam aerobik seksi, Piccolo menyuruh Gohan untuk mengirimkan energi kepada Krillin. Di sini saya diajarkan cara ‘energy share’ atau membagikan energi kepada ‘ally’ atau rekan bertarung. Membagi energi ini bisa digunakan untuk mengembalikan energi teman yang telah berkurang. Awalnya saya agak kesulitan dengan mekanik ini mengingat untuk mengaktifkannya membutuhkan R3, tapi tidak butuh waktu lama buat saya menjadi terbiasa dengannya. Selain ‘Energy Share’, diajarkan pula cara ‘Revive Soul’, yang bisa digunakan untuk membangkitkan teman yang sudah kehabisan energi.

Pertarungan melawan Piccolo merupakan pertarungan yang begitu intens dan sulit. Bahkan walaupun saya sudah berhadapan satu lawan satu dengannya, saya masih saja jadi bulan-bulanan jurusnya. Ketika dua Piccolo sudah jatuh, Piccolo memunculkan kekuatannya yang sesungguhnya dan menjadi lebih beringar. Alhasil saya sempat kehabisan energi namun beruntung teman-teman saya masih sempat membagikan energinya sehingga saya, sebagai Gohan kecil, bisa bangkit kembali.

Serangan kerja sama Synchro.
Menarik untuk dicatat dalam pertarungan kooperatif ini bisa terjadi SYNCHRO yaitu kondisi di mana saya dan karakter teman lainnya saling bekerja sama dalam sebuah kombinasi serangan kepada lawan. Fitur ini tidak selalu muncul namun terlihat keren saat itu terjadi. Dalam duel melawan Piccolo ini juga diperkenalkan ‘Meteor Chain’, semacam serangan beruntun yang cukup keren. Ini mungkin bisa disebut combo dan semakin banyak ‘chain’ yang dibuat, semakin terasa seru serangannya. Selain itu dengan bertarung bersama-sama rekan, ‘energy gauge’ yang ada di bagian atas layar permainan akan terisi dan bila penuh akan menghasilkan serangan dahsyat yang pada akhirnya menjatuhkan si Piccolo ini.

Mission Complete, di mana saya menggerakkan Gohan terbang melayang kesana- kemari saat tiba-tiba muncul tulisan ENERGY REQUEST dengan sorot mata Goku muncul juga di layar permainan. Sebuah bola energi yang besar muncul dan menurut teman-temannya Gohan, itu adalah permintaan transfer energi untuk dikirimkan kepada para petarung lain yang sedang bertarung di tempat lain di dunia ini. Yang perlu saya lakukan kemudian adalah menekan tombol O sebanyak mungkin sebelum waktunya habis dan melihat seberapa banyak energi yang bisa saya kirimkan. Misi ketiga pun akhirnya selesai dan kini saya bisa mengakses karakter Krillin, Tien, dan Yamcha, serta Co-op Mode.

Nappa dan Saibamen.
Dalam mission 4, ‘The Fearsome Saiyan!’, Gohan kembali bertarung bersama tiga temannya tersebut. Kali ini menghadapi Nappa, manusia Saiya botak yang akhirnya datang juga. Nappa tidak bertarung sendiri, dia memanggil Saibamen, dua berwarna hijau dan satu berwarna merah dan pertarungan pun dimulai. Dengan empat musuh berbeda level, konsentrasi saya pun terpecah antara menyerang Saibamen atau Nappa terlebih dulu. Lalu saya putuskan untuk mengamankan Saibamen terlebih dulu tapi ternyata itu langkah yang salah.

Ketika saya menghajar Saibamen, saya melepaskan pertahanan saya dari Nappa dan si botak itu pun dengan mudah menghajar saya baik dengan serangan-serangan fisiknya yang cepat maupun dengan serangan jarak jauh. Saya pun jadi bulan-bulanan dan kalah, permainan berakhir. Mungkin inilah pertama kalinya saya mengulang permainan. Saat mengulang permainan, saya mengubah strategi dengan kini saya beralih menyerang Nappa terlebih dulu. Rupanya memang saya mesti mengalahkan Nappa sementara Saibamen hanya pengalih perhatian.

Nappa terus-menerus menangkis serangan Kid Gohan.
Akan tetapi sama seperti yang ada di serial animasinya, Nappa tetaplah sulit untuk dijatuhkan. Serangan-serangan saya dengan mudah ditangkisnya lantas dia berbalik melayangkan serangan bertubi-tubi yang mematikan. Berkali-kali saya jatuh, namun saya terus berusaha untuk bisa mengalahkan Nappa. Pada akhirnya saya mengerti bahwa yang perlu saya lakukan adalah menjadi lebih waspada pada serangan Nappa dan menyerang selagi dia lengah. Saya pun jadinya sering melayang berputar-putar mengitari Nappa lantas mendaratkan serangan saat momennya tepat.

Meski begitu strategi ini terbilang lama dan membuat saya tak sabar. Sehingga saya beberapa kali melesatkan ‘blast spark’ yang sayangnya berhasil dihindarinya. Saya putuskan untuk kembali mendaratkan serangan-serangan jarak dekat namun kali ini saya berusaha melayangkan serangan secepat mungkin yang bisa saya lakukan. Dengan kerja sama yang baik, beberapa kali SYNCHRO, akhirnya Nappa berhasil dikalahkan dan mission complete. Tapi sebelum beralih ke misi berikutnya, kembali muncul ‘Energy Request. Kini saya bisa mengakses karakter Piccolo dan Saibamen, dan juga mengakses Battle Mode.

Percabangan misi yang menyebalkan.
Dari sini misinya bercabang, dengan dua sampai tiga cabang di sana. Saya pun bingung memilih antara mission 5 atau mission 7. Namun mengingat saya menyukai sesuatu yang kronologis, pilihan pun jatuh pada mission 5. Misi bercabang seperti ini sendiri bukan yang pertama kali saya temukan. Sebelumnya saya menemukannya di game ‘Teenage Mutant Ninja Turtles 2: Battle Nexus’, yang mana menurut saya percabangan ini merusak kenikmatan dalam mengikuti kronologi permainannya. Karena saya bisa langsung ke misi berikutnya tanpa menyelesaikan misi sebelumnya terlebih dulu. Tapi sekali lagi, mengingat mayoritas game Dragon Ball Z berfokus pada duel, maka buat saya ini bisa dimaafkan.

Misi kelima yaitu ‘The Cornered Nappa’, di mana Gohan dan ketiga temannya kembali berhadapan dengan Nappa yang tampaknya kali ini tersudut di lokasi yang sama saat Goku bertarung melawan Raditz di misi kedua. Merasa tersudut, kali ini Nappa mengeluarkan seluruh kekuatannya, menghajar Gohan tanpa ampun. Beberapa kali saya kehabisan energi dan nyaris tewas kalau saja Krillin dan kawan-kawan tidak membagikan energi mereka. Pertarungan sempat terhenti sebentar saat Vegeta datang dan menenangkan Nappa. Vegeta mengatakan kalimat motivasi yang cukup memberi semangat Nappa, tapi tetap saja saya berhasil mengalahkannya atau tepatnya membunuhnya.

Vegeta siap bertarung.
‘An Emperor Rises’ menjadi misi saya berikutnya, mission 6, di mana seperti yang sudah terlihat di misi sebelumnya, Gohan dan kawan-kawannya berhadapan dengan Vegeta. Terjadi peningkatan kesulitan yang cukup tinggi di sini, di mana Vegeta begitu brutal melakukan serangan. Dia berkali-kali menembakkan ‘blast spark’ ke arah saya dan itu jelas bukan hal yang baik. Saya berkali-kali kehabisan energi, terpelanting dan sekarat. Saya bahkan kehilangan satu nyawa dalam pertarungan ini, menjadi pelajaran pada kesempatan berikutnya.

Saya lantas mengambil strategi ‘hit and run’ seperti yang saya gunakan pada pertarungan-pertarungan sebelumnya. Yaitu dengan terbang melayang, berputar menghindari tembakan-tembakan Vegeta sambil terus fokus mengunci sasaran ke arahnya. Saya tidak akan menceritakan secara detail pertarungan ini mengingat betapa melelahkannya pertarungan melawan Vegeta. Yang saya lakukan adalah melakukan semua jenis serangan yang bisa digunakan, baik melee ataupun serangan berbasis ki. Singkatnya saya berhasil menguras habis health point (HP) Vegeta, menjatuhkannya dan tiba-tiba muncul tulisan WARNING besar di tengah layar.

Great Ape Vegeta mengancam.
Vegeta bangkit, tampak marah lantas mengamuk dan melemparkan bola energi ke langit. “Burst & Combine!” teriaknya. Bola energi yang dilemparkannya ke langit lantas bersinar terang lalu mengubah Vegeta menjadi wujud ‘The Great Ape’ alias kera raksasa, sebagaimana yang ditampilkan dalam serial animasinya. Sayangnya, proses transformasi Vegeta menjadi The Great Ape ini tidak digambarkan secara detail ataupun dramatis. Hanya dalam dua detik kilatan cahaya dia sudah berubah menjadi kera dan membesar. Buat saya ini tentu mengecewakan karena seingat saya dalam serial animasinya proses perubahan ini berlangsung cukup panjang dan dramatis, memunculkan semacam ketegangan tersendiri bagi saya yang menyaksikannya.

Tapi ya sudahlah, lupakan saja detail itu, karena toh lagi-lagi ini game Dragon Ball Z, yang penting ya gebuk-gebukannya. Intinya saat ini saya berhadapan dengan Vegeta yang telah berubah menjadi kera raksasa. Sesuai dengan namanya, Great Ape bukanlah lawan yang mudah untuk dikalahkan. Badannya begitu besar dan kekuatan serangannya juga begitu kuat. Dia menghantam dengan anggota-anggota tubuhnya dan mengeluarkan semburan sinar merah yang begitu kuat. Apalagi saat tubuhnya menyala merah, membuat saya mesti menjauh sementara. Hanya dalam sekali semburan saja saya sudah kehabisan begitu banyak energi, membuat saya berkali-kali mengandalkan ‘energy share’ dari Z-Fighter lainnya.

Great Ape menembakkan sinar penghancurnya yang dahsyat.
Saya sempat putus asa saat melawan Great Ape, karena ketika saya melihat pada health bar-nya, nyaris serangan-serangan saya tidak membuatnya berkurang. Great Ape terlihat begitu kokoh dan sepertinya mustahil untuk dikalahkan, membuat saya mengira bahwa pertarungan ini bukan untuk dimenangkan di mana saya mesti bertahan hingga batas waktu yang ada di pojok kanan atas layar permainan. Namun kemudian saya menyadari ada beberapa health bar yang dimiliki Great Ape di samping health bar utamanya. Masing-masing menunjukkan HP bagian-bagian tubuhnya yaitu kepala, tangan kanan, tangan kiri, dan kaki. Saya lupa yang mana, tapi salah satu bagian tubuhnya sudah kehabisan HP, membuat saya tersadar bahwa pertarungan ini memang harus dimenangkan.

Berikutnya saya berpikir saya mesti menguras satu per satu HP dari anggota tubuh Great Ape tersebut. Namun anehnya sasaran kunci saya di Great Ape hanya ada satu dan ketika saya melakukan ‘melee attack’, serangan itu mengenai bagian tubuhnya secara acak. Saya mesti bergerak ke anggota tubuh tertentu untuk bisa mendaratkan serangan tepat di bagian yang saya inginkan. Meski begitu perlahan HP masing-masing anggota tubuh tersebut mulai berkurang secara signifikan berkat perpaduan serangan jarak dekat dan jarak jauh yang saya lakukan, utamanya ‘blast spark’ alias sekali lagi, kamehameha.

Great Ape menangkap Kid Gohan.
Dengan gempuran yang terus-menerus, pada akhirnya saya berhasil menguras satu-persatu HP di bagian-bagian tubuh Great Ape, berkontribusi mengurangi HP utamanya. Ya walaupun sesekali Great Ape sukses menangkap saya dengan kedua tangan besarnya, memaksa saya untuk menekan semua tombol aksi secara bersamaan. Dengan ledakan ‘blast spark’, saya menyudahi amukan Great Ape Vegeta, menjatuhkannya ke tanah. Mission Complete dan kembali muncul ‘energy request’. Saya pun membagikan energi ke arah bola cahaya di sana untuk terakhir kalinya, karena tanpa sadar waktu satu jam telah terlewati dan permainan saya pun berakhir sudah. Syukurlah saya sempat menjatuhkan Great Ape Vegeta sebelum satu jam berakhir.

Satu jam telah terlewati dan sekarang saatnya saya untuk memberikan ulasan singkat serta kesimpulan dalam permainan selama satu jam ini. Battle of Z terbilang seru juga ya, sampai-sampai waktu satu jam sama sekali tidak terasa. Padahal biasanya game beat’em up kayak gini tuh bakal membosankan lho, tapi nyatanya waktu satu jam permainan ini terasa begitu penuh. Seperti biasa saya akan memulai ulasan ini dari segi grafis yang menurut saya tidak terlalu mengesankan bahkan bisa saya bilang begitu standar. Game ini dirilis di PS3, namun kualitas grafisnya kok gak jauh berbeda ya sama grafis game-game PS2?

Lihatlah betapa lucunya kepala Tien.
Grafis Battle of Z dihadirkan dalam tampilan cel-shade art, yang sebenarnya terbilang mengesankan dengan warna-warnanya yang tajam. Lingkungan permainan yang menjadi tempat pertarungan terlihat begitu tebal dan hidup, namun sayangnya ini tidak terjadi pada penggambaran karakter-karakternya. Ya memang ciri fisik karakter tergambar jelas dalam artian saya bisa mengenali seratus persen siapa karakter yang ada di layar, akan tetapi beberapa bagiannya tampak tidak proporsional, menjadikannya terlihat lucu. Ambil contoh penggambaran Krillin, Yamcha, dan Tien saat baru datang hendak membantu Kid Gohan, yang menurut saya terlihat begitu lucu.

Meski tidak terlalu mengesankan dan kurang memaksimalkan kemampuan PS3, namun tetap saja perpaduan setiap gambar yang ada dalam game ini mampu menghidupkan keseruan pertarungan ala Dragon Ball Z, sebagaimana yang saya saksikan di televisi. Setiap serangan, baik itu serangan fisik maupun serangan super, digambarkan dengan begitu indah. Kecepatan setiap pukulan dan tendangan begitu terasa, pun dengan ‘blast spark’ atau kamehameha yang terlihat begitu mengancam. Efek-efek ledakannya pun begitu pula, membuat saya terhanyut ke dalamnya. Pergerakannya animasinya juga begitu dinamis, terlebih pada perubahan tempo tepatnya saat karakter bergerak cepat baik itu berlari maupun terbang. Buat ini semakin menghidupkan pertarungan udara Dragon Ball Z yang begitu khas.

Perpaduan grafis dan audio hasilkan efek pertarungan yang keren.
Dari segi audio sepertinya sama dengan segi grafis, meski tidak terlalu mengesakan namun sangat pas dalam mendukung keseluruhan permainan. Efek-efek suaranya seperti suara ledakan, hembusan angin saat terbang, hantaman dan tendangan, serta lesatan serangan, semua itu terdengar keren, berpadu sangat baik dengan grafis yang ditampilkannya. Dalam game ini ada voice acting yang sangat mudah terlupakan dan sesekali terdengar aneh, tapi buat saya sih lumayan, cukup menambah unsur ketegangan dan menghidupkan karakter yang sedang saya mainkan. Setidaknya suara geraman saat bertarug tidak absen di sini, yang menurut saya merupakan nilai tambah yang menjadikannya lebih seru.

Untuk gameplay mungkin tidak perlu saya bahas lagi ya, karena ya ini kan game Dragon Ball Z yang lain yang artinya apa yang kalian cari selain saling hantam dan serang satu sama lain? Saya sendiri agak bingung dalam mendeskripsikan genre game ini karena di satu sisi ada elemen fighting yang kuat di sini, namun di sisi lain ada elemen beat’em up juga yang membuat game ini terasa berwarna. Pun begitu sentuhan RPG dalam hal kustomisasi karakter melalui card dan item collection menurut saya terbilang menarik, sedikit menambahkan kedalaman pada game Dragon Ball Z yang sebelumnya sekadar diisi dengan main hantam.

Battle of Z memiliki premis multiplayer yang menarik. (sumber gambar: einfogames.com)
Tapi sebenarnya Battle of Z adalah game fighting yang lebih berat ke mode multiplayer, jadi rasanya tidak bijak bila saya mengomentari gameplay game ini hanya dari sisi single-player. Dari apa yang saya rasakan selama satu jam bermain mode single-player, saya rasa game ini bakal sangat menarik bila dimainkan secara multiplayer. Pasalnya ada banyak fitur dalam game ini yang bisa menjadikan pengalaman bermain secara bersama-sama lebih berwarna. Fitur co-op, energy share, synchro, chain, itu semua jelas menjadi magnet atau setidaknya membuat gamer penasaran bagaimana eksekusinya dilakukan.

Battle of Z memiliki kontrol yang begitu baik, sangat baik malah, di mana tidak butuh waktu lama bagi saya untuk terbiasa dengan skemanya. Begitu mudah melakukan ‘melee attack’ dan ‘ki spark’, sementara kombinasi tombol untuk memunculkan serangan yang lebih kuat terbilang mudah untuk dilakukan. Apalagi dengan adanya fitur lock-on ala Zelda. Kendali untuk bergerak pun begitu responsif, membuat setiap pergerakan baik di di darat maupun terbang melayang terasa sangat menyenangkan. Sayangnya saya menemukan celah dalam pergerakan kamera di mana beberapa kali kamera tak terarah dengan baik dan membingungkan.

Lihatlah betapa tidak pasnya percakapan dengan adegan yang tengah berlangsung.
Lantas bagaimana dengan narasinya? Kalau kalian akrab dengan game-game Dragon Ball Z, jelas pertanyaan ini bakal sia-sia karena seperti kebanyakan game Dragon Ball Z, kalian memainkannya bukan untuk mengetahui ceritanya. Hampir semua penggemar Dragon Ball Z tahu seperti apa cerita serial ini yang terus-menerus di ulang setiap kali ada game Dragon Ball Z terbaru. Mulai dari saga Saiya, Frieza, Cell, hingga Buu. Dan seperti game-game pendahulunya, narasi dalam Battle of Z juga tidak digarap dengan baik, setidaknya itu yang saya lihat dalam satu jam permainan ini.

Seperti yang sudah kalian baca di atas, pertarungan antara Goku melawan Raditz berganti begitu saja dengan pertarungan antara Gohan dan Piccolo, tanpa ada sedikit pun penjelasan apa yang terjadi dalam rentang waktu antara kedua pertarungan ini. Buat para penggemar Dragon Ball Z, hal ini mungkin tidak merisaukan mengingat semuanya sudah tahu mengenai apa yang sebenarnya terjadi.  Tiba-tiba saya mengendalikan Kid Gohan dan saya tidak tahu kenapa tiba-tiba ada Kid Gohan di sana, berlatih dengan Piccolo. Lalu kenapa Goku?

Kemunculan Great Ape begitu spontan.
Narasi dalam game ini disampaikan dalam serangkaian percakapan dan cutscene yang terjadi di sepanjang pertarungan yang sayangnya gagal menyampaikan ceritanya dengan utuh. Malahan menurut saya terasa seperti sesuatu yang dipaksakan. Tapi saya tidak heran, mengingat game ini memang ditujukan agar para pemainnya bisa bertarung beramai-ramai, bukan untuk menyajikan cerita yang dramatis sebagaimana dalam serial animasi Dragon Ball Z. Dan memang, tidak ada satu momen dramatis pun dalam game ini yang semestinya bisa diolah sedemikian rupa untuk memancing emosi pemainnya. Pengungkapan Raditz tentang jati diri Goku, latihan Gohan bersama Piccolo, dan berubahnya Vegeta menjadi Great Ape adalah bukti di mana narasi begitu disia-siakan dalam game ini.

Ya memang sih seperti yang banyak diamini oleh para pemain Dragon Ball Z, narasi bukan hal yang penting dalam game Dragon Ball, tapi setidaknya berikan sedikit cutscene di sela-sela pergantian misi agar pemain atau apa yang akan mereka hadapi dan bagaimana itu bisa terjadi. Ini PS3 lho, yang notabene memiliki kemampuan HD dan penggambaran sinematik yang wah sudah jamak ada di konsol ini. Masak ya kalah sama Dragon Ball: Advanced Adventure yang walaupun hadir dalam konsol serba terbatas namun bisa memberikan sedikit gambaran kronologi cerita.

Pengalaman Dragon Ball Z yang sebenarnya.
Sebuah video game takkan banyak berarti bila tidak memiliki replay value alias seberapa menariknya game tersebut untuk dimainkan kembali. Mengingat Battle of Z ditujukan sebagai game multiplayer, maka kekuatan sebenarnya game ini ada di mode multiplayer. Ada dua mode multiplayer yang bisa dijajal dalam game ini yaitu co-op dan battle mode, serta elemen-elemen multiplayer lainnya yang membuat game ini seru dimainkan bersama-sama secara online.

Tapi untuk mode single-player, saya rasa replay value game ini sangat sedikit. Selain genrenya yang menurut saya membosankan bila dimainkan sendirian, terlalu banyak pengulangan dalam perjalanan menyelesaikan mode ini. Apalagi tingkat kesulitannya juga tidak terlalu mencekik, dalam artian saya akan segera bisa mengatasi semuanya saat saya sudah menemukan celahnya, yang bagusnya segera saya temukan sejak awal-awal permainan. Meski begitu beberapa variasi pertarungan seperti melawan Great Ape buat saya cukup menjadi alasan memainkan game ini untuk kali kedua.

Beerus alias Bills, alasan memainkan game ini kembali.
Kesimpulannya, Dragon Ball Z: Battle of Z adalah game Dragon Ball Z yang lainnya, yang lagi-lagi mengusung aksi penuh baku hantam dan baku pukul di antara karakter-karakternya, pun dengan plotnya yang entah sudah berapa kali dikemas ulang. Beberapa inovasi yang diperkenalkannya terasa lebih tepat diterapkan dalam mode multiplayer, jadi bila kalian mencari game yang asyik dimainkan beramai-ramai, ini adalah game yang tepat. Tapi secara online lho ya, karena game ini sama sekali tidak memiliki fitur local multiplayer yang tentunya sangat mengecewakan untuk game Dragon Ball Z. Oh iya, ini belum saya bahas di atas ternyata, untung masih ingat, hehehe.

Akhirnya, setelah satu jam bermain, saya pikir tidak ada salahnya untuk saya kembali memainkan game ini bila kondisinya memungkinkan. Karena saya baru tiba di pertarungan melawan Vegeta, sementara masih banyak lawan tangguh Dragon Ball Z yang belum saya hadapi semisal Frieza, Cell, Buu, bahkan yang paling saya nantikan di game ini, Beerus. Saya penasaran bagaimana serunya adu kuat melawan Beerus, mengingat karakter ini belum pernah saya temui sebelumnya di game-game Dragon Ball Z. Jelas pertemuan dengan Beerus adalah apa yang saya harapkan dari game ini.

Meski menghadirkan beberapa inovasi baru, Battle of Z buat saya adalah tetap game Dragon Ball Z standar. Dan karena saya penggemar Dragon Ball, saya pikir game ini perlu ada dalam koleksi game PS3 saya, walaupun saya kecewa tidak ada fitur local multiplayer di game ini seperti yang dulu sering saya mainkan dalam game Dragon Ball Z yang ada di PS2 bersama teman saya. Dari skala 1 sampai 10, saya beri game ini nilai impresi 7 yang artinya cukup layak untuk dimainkan kembali. Beerus adalah alasan kenapa saya mesti memainkan game ini kembali. Saya Gamer Jalanan, terima kasih sudah membaca pengalaman saya ini dan... Salam Gamer! (gj)

*NB: Cuplikan-cuplikan screenshot diambil dari Youtube

1 comment: