Thursday, June 27, 2019

PUBG Mobile Diharamkan, Kenapa Tidak?

(sumber gambar: esports.id)

BELAKANGAN ini, jagad game nusantara dikejutkan dengan diharamkannya game online popular, Player’s Unknown Battlegrounds (PUBG) Mobile oleh Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) di Aceh. Sebagai salah satu game yang paling banyak dimainkan dan memiliki basis pemain yang besar, tentu hal ini langsung mengundang reaksi dari para gamer di Indonesia yang kebanyakan menentang keras fatwa haram tersebut. 

Adapun dilansir dari Kompas.com, latar belakang MPU mengharamkan PUBG Mobile lantaran game ini dianggap bisa mengubah perilaku pemainnya ke arah negatif, penuh konten kekerasan, serta bisa mengganggu kesehatan. Di antaranya kasus-kasus anak yang membangkang kepada orang tua dan kasus suami yang mengabaikan istri lantaran bermain PUBG. Penerbitan fatwa ini sendiri, setelah sebelumnya terlebih dahulu dilakukan pembahasan bersama pakar teknologi informasi (IT), psikolog, dan fiqh Islam.

Informasi tentang diharamkannya PUBG lantas bersliweran di media sosial, khususnya di kalangan para gamer. Apalagi dibumbui informasi adanya hukuman cambuk bagi mereka yang masih nekat memainkan game PUBG. Dan sebagaimana netizen negara berflower, kabar ini mendapat beragam komentar dari gamer, yang kebanyakan komentar negatif berisi umpatan-umpatan dan olok-olok kepada pihak yang mengharamkan, bahkan sampai mendoakan keburukan.



Komentar-komentar netizen yang membela PUBG.
Bahkan ada yang sampai mendoakan keburukan, naudzubillahimindzalik.
Mayoritas gamer beralasan bahwa tidak semua gamer PUBG berujung pada hal-hal yang negatif sebagaimana dituduhkan. Melainkan, terdapat pula pemain yang menjadikan PUBG sebagai salah satu profesi dan mata pencaharian yang menghasilkan. Bahkan profesi sebagai gamer diklaim merupakan salah satu profesi yang menjanjikan di masa depan, seiring dengan semakin berkembangnya atmosfer e-sports di dunia, khususnya di Indonesia.

Kalau menurut saya Retro Lukman Gamer Jalanan secara pribadi, pengharaman atau pelarangan PUBG ini sangat beralasan. Dan kasus di Aceh bukanlah yang pertama terjadi. Sebelumnya, game ini sempat mengundang kontroversi dan dilarang oleh pemerintah Negara-negara luar, seperti di Nepal, India, Irak, bahkan Tiongkok. Alasannya senada dengan yang terjadi di Aceh, dengan kekhawatiran bisa memunculkan kekerasan di dunia nyata.

Nadeem Sheikh, pria India yang bunuh diri karena PUBG. (sumber gambar: Indian Times)
Dan memang faktanya, sudah banyak kasus-kasus negatif yang terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia akibat PUBG serta game online sejenis. Anak yang membangkang pada orang tua, suami yang mengabaikan istri dan anaknya, semuanya itu telah banyak terjadi dan bisa dibaca di media massa. Contohnya remaja yang bunuh diri dan penusukan terhadap kerabat sendiri lantaran game PUBG.

Yang terbaru dan terjadi di Indonesia, ada seorang suami yang tega menganiaya istrinya hingga tewas cuma gara-gara ditegur ketika bermain game online. Ironisnya, sang istri baru saja melahirkan anaknya. Walaupun tidak dijelaskan rinci tentang gamenya, namun sudah cukup memberikan pelajaran betapa kecanduan game online, salah satunya PUBG Mobile bisa mengubah perilaku seseorang ke arah negatif. Bukan hanya merugikan diri sendiri, melainkan merugikan orang lain bahkan berujung kriminal.

ilustrasi kekerasan pada istri.
Tentu hal inilah yang menjadi dasar dan latar belakang dari keluarnya larangan atau fatwa haram terhadap game online, khususnya PUBG Mobile yang tengah populer. Karena memang kasusnya bukan lagi satu atau dua, tetapi sudah sedemikian banyaknya. Mungkin kasus-kasus yang fatal bisa dihitung dengan jari, namun di luar itu ada begitu banyak layaknya fenomena gunung es, tentang perilaku-perilaku negatif yang berpotensi menjadi suatu masalah besar di kemudian hari.

Ya memang video game kini telah berevolusi dan bukan lagi sekadar sarana hiburan semata. Melainkan telah menjadi komoditas yang bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah lewat berbagai profesi yang ada di dalamnya. Mulai dari atlet esports, youtuber/streamer, atau developer game. Namun kenyataannya, yang demikian itu masih sangat sedikit di Indonesia, bila dibandingkan dengan jumlah para gamer yang telah kecanduan game online dan menjadi antisosial, malas belajar, membangkang, boros, atau mengarah pada perilaku negatif lainnya.

Salah seorang streamer PUBG Mobile asal Indonesia.
Tidak usah jauh-jauh, lihat saja komentar-komentar negatif dengan bahasa-bahasa kasar, vulgar penuh cacian hingga membawa alat kelamin dan nama-nama binatang yang menanggapi berita diharamkannya PUBG Mobile. Dari situ saja kita sudah bisa melihat betapa PUBG Mobile dan game-game online lainnya bisa mengubah perilaku pemainnya menjadi begitu mudah dalam berkata kasar dan kotor yang tentunya merupakan tindakan negatif. Dari sini, efek buruk game online sudah sangat jelas terlihat.

Dari pengalaman saya pribadi, game online memiliki lebih banyak mudarat ketimbang manfaatnya.  Salah satunya yaitu membuang-buang waktu yang sia-sia. Lantaran pemain game online biasanya bisa menghabiskan berjam-jam waktunya hanya demi bermain game. Padahal, waktu yang terbuang tersebut bisa lebih berharga dan bermanfaat bila digunakan untuk hal-hal atau kegiatan-kegiatan yang positif bahkan menghasilkan.

Seorang pengantin pria di India main PUBG Mobile saat pernikahan.
Contohnya adalah diri saya sendiri, yang begitu asyik bermain game online sehingga sempat mengabaikan anak dan istri. Istri saya gak kurang-kurang kalau memarahi dan menasehati saya lantaran saya asyik sendiri dengan game online yang sedang saya mainkan. Kegelisahan yang sama yang saya baca dari komentar kaum istri lainnya di media sosial. Alhamdulillah saya masih bisa disadarkan dan tidak terjerumus ke dalam perbuatan negatif.

Contoh lainnya adalah saudara sepupu saya, seorang kreatif yang memiliki usaha di bidang fotografi dan videografi. Waktunya lebih banyak dihabiskan untuk bermain PUBG Mobile bersama kawan-kawannya ketimbang mengembangkan usahanya. Padahal bila waktu berjam-jam tersebut dia maksimalkan untuk mengembangkan usahanya lebih jauh lagi, tentu akan lebih bermanfaat dan menghasilkan. Mengingat saat ini belum banyak pekerjaan yang digarapnya.

Main game bisa bikin lupa ibadah. (sumber gambar: Gatra)
Dalam konteks kehidupan beragama sendiri, kecanduan game online membuat pemainnya sampai lupa waktu sehingga malas bahkan tidak beribadah. Dan hal ini saya lihat sendiri betapa banyak para pemain game online yang muslim melewatkan waktu salat mereka. Pun demikian, kecanduan seperti ini membuat “korbannya” akan terus terpikirkan tentang game online, yang tentunya mengganggu proses berpikir yang penting dalam bidang pendidikan/belajar.

Maka tak perlu heran bila kemudian ada larangan atau fatwa haram akan suatu video game. Untuk itu, menurut hemat saya Retro Lukman Gamer Jalanan, larangan atau fatwa ini perlu menjadi pembelajaran bagi para gamer secara universal. Bukan malah jadi ajang mencaci para ulama atau pihak-pihak yang mengeluarkan larangan tersebut. Karena mencaci tidak akan menyelesaikan masalah, malahan akan membuat kita lebih berdosa.

PUBG dinilai penuh konten kekerasan. (sumber gambar: Forbes)
Karena bagaimanapun, para ulama tersebut adalah pihak-pihak yang lebih berkompeten dalam bidang agama dibandingkan dengan kita sebagai umat yang ibadahnya sangat-sangat kurang, salatnya mungkin masih bolong-bolong atau tidak tepat waktu. Para ulama ini adalah orang tua kita, yang memikirkan bagaimana masa depan kita sebagai generasi penerus bangsa di negeri ini. Mereka pasti melihat sesuatu yang penting dalam penetapan fatwa ini. Karena tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api.

Sebagai orang tua, saya bisa memahami bila mereka mengkhawatirkan masa depan anak-anak lewat fatwa tersebut. Karena dalam ayat Alquran sendiri, jelas bunyinya agar kita tidak meninggalkan generasi yang lemah. Poinnya adalah, apabila generasi kita didominasi oleh anak-anak yang sudah kecanduan game dan berperilaku negatif, mau jadi seperti apa negeri ini? Cek aja itu salah satu komentar netizen yang ada di awal tulisan ini.

Profesi atlet esport. (sumber gambar: LTE Arena)
Ya memang video game tidak seburuk yang orang bayangkan, banyak juga gamer yang positif. Video game juga bisa menawarkan masa depan. Namun belum semuanya, malahan masih begitu banyak gamer yang belum tersadarkan. Maka sudah menjadi tugas wajib bagi para gamer untuk menunjukkan bahwa video game bisa positif, bukan melulu negatif. Agar stereotip buruk yang kadung melekat pada video game bisa hilang. 

Walau sepertinya stereotip tersebut sulit untuk dilenyapkan, bukan berarti tidak bisa. Caranya sebenarnya sangat sederhana, dimulai dari keseharian kita. Misalnya bermain video game secukupnya pada waktu senggang, jangan juga bermain game berjam-jam hingga larut malam. Saat waktunya belajar ya dipakai belajar, waktunya tidur juga dipakai untuk tidur, bukan malah bermain game.

ilustrasi kumpul keluarga. (sumber gambar: futuready.com)
Pun demikian, jangan sampai mengabaikan keluarga gara-gara keasyikan bermain game. Ketika keluarga butuh bantuan, hentikan bermain game. Pada saat-saat bersama keluarga, misalnya waktu kumpul keluarga, usahakan menghabiskan waktu dengan mereka ketimbang bermain game. Jangan sampai video game menjauhkan atau merebut kita dari keluarga. Karena bagaimanapun keluarga tetap yang utama.

Jadikan video game sebagaimana seharusnya, sebagaimana fungsi utamanya sebagai sarana hiburan, tidak lebih. Kitalah yang mengendalikan video game, bukan video game yang mengendalikan kita. Karena kalau sampai video game yang mengendalikan kita, maka mungkin lebih baik bila video game diharamkan saja. Sepakat? Saya Retro Lukman Gamer Jalanan, sampai jumpa lagi di video berikutnya dan… Salam Gamer! (gj)

No comments:

Post a Comment